Menlu AS Minta Negara Timur Tengah Mencontoh Israel

Washington: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengatakan seluruh negara di Timur Tengah seharusnya mencontoh Israel. Menurut dia, Israel memiliki semua yang diinginkan negara-negara Arab tersebut.

“Israel adalah segalanya yang diinginkan AS di Timur Tengah, negara ini demokratis, makmur, dan menginginkan perdamaian,” katanya dilansir dari laman Russia Today, Jumat 12 Oktober 2018.

Bahkan, lanjut Pompeo, Israel merupakan rumah bagi pers bebas dan ekonomi yang berkembang. “Semua yang kita inginkan di seluruh Timur Tengah yang terlihat maju,” tukasnya di acara tahunan Institut Yahudi untuk Keamanan Nasional Amerika (JINSA).

Pompeo menuturkan, negara-negara Timur Tengah seharusnya jangan mencontoj Iran. Menurutnya, negara tersebut memiliki pemimpin korup yang menyerang hak asasi manusia rakyatnya sendiri.

“Mereka bahkan membiayai terorisme di setiap sudut Timur Tengah,” lanjut dia.

Dia menambahkan, mantan Presiden Barack Obama terlalu lembut menghadapi Iran. Menurut Pompeo, tidak bisa menyelesaikan masalah dengan Iran secara damai.

“Presiden Obama berpikir bahwa jika dia membuat konsesi yang berbahaya, menghapus sanksi ekonomi dan menerbangkan pesawat penuh uang tunai ke Teheran, dia bisa memeluk pemimpin Iran. Itu terlalu baik,” ucap dia.

Pompeo menyebut pemimpin Iran sebagai penjahat film. Mereka membunuh dan menyandang dana terorisme. Mereka bahkan menginginkan kejatuhan Amerika.

Meski demikian, saat ini, di era Presiden Donald Trump, Negeri Paman Sam lebih condong ke Israel. Salah satunya dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. 

Mereka juga memindahkan kedutaan besar dari Tel Aviv ke Yerusalem sehingga memicu kecaman global karena dianggap menyalahi resolusi PBB. Washington juga memotong dana bantuan PBB yang diperuntukkan bagi para pengungsi Palestina maupun dana langsung kepada Pemerintahan Palestina (PA) dan Gaza. 

Trump juga mengumumkan AS keluar dari perjanjian nuklir Iran yang dibuat di era Obama pada 2015. Dia bahkan menyebutkan perjanjian tersebut terburuk dalam sejarah.

(WAH)