Merajut Benang Hulu-Hilir Demi Ketahanan Energi

Jakarta: Disadari, untuk membentuk dan membangun ketahanan, kemandirian, serta kedaulatan energi memerlukan kekuatan sektor hulu dan hilir. Jika dua sektor itu berjalan sendiri-sendiri tanpa bersinergi Indonesia tidak akan meraih tiga aspek itu.

PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor migas pun bertanggung jawab mencapai tiga aspek tersebut. Sektor hulu harus memiliki kemampuan mencari cadangan migas yang banyak sedangkan sektor hilir harus mampu mengolahnya.

“Yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita meningkatkan produk di upstream supaya crude meningkat. Jadi harus ada penemuan cadangan-cadangan baru, baik dalam dan di luar negeri. Kedua adalah kita harus membangun kilang,” kata Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat berbincang dengan Medcom.id beberapa waktu lalu.

Pertamina dipercaya pemerintah untuk mengelola beberapa wilayah kerja migas terminasi selama setahun belakangan ini. Wilayah kerja terminasi adalah wilayah kerja yang sebelumnya sudah dioperasikan oleh kontraktor lain, tetapi karena masa kontrak habis pemerintah melimpahkannya kepada Pertamina.

Baca: Sebagian Besar Investasi Pertamina Tahun Ini untuk Sektor Hulu

Beberapa di antaranya wilayah kerja terminasi Tuban, Ogan Komering, Sanga Sanga, North Sumatera Offshore, Southeast Sumatra, dan East Kalimantan & Attaka. Kemudian, wilayah kerja Raja dan Pendopo, serta Jambi Merang. Yang terbaru, Pertamina berhasil mengambil lapangan minyak terbesar Indonesia yaitu Blok Rokan.

Nicke juga pernah mengungkapkan kepercayaan pemerintah kepada Pertamina untuk mengelola wilayah kerja migas terminasi itu akan meringankan perseroan dalam menjalankan tugas negara, serta dapat meningkatkan pendapatan dan keuntungan perseroan.

“Ini bisa menjadi amunisi Pertamina untuk menjalankan tugas negara,” ungkap Nicke.

Selain memperoleh wilayah kerja migas baru, Pertamina juga terus memaksimalkan produksi wilayah kerja yang sudah ada. Senior Vice President President Upstream Strategic Planning & Operation Evaluation Pertamina, Meidawati mencatat hingga Juli 2018, produksi minyak dan gas Pertamina mencapai 907 ribu BOEPD.

Produksi itu terdiri dari produksi dalam negeri 752 ribu BOEPD dan luar negeri 154 ribu BOEPD dengan rinciannya minyak 380 ribu barel per hari (bph) sedangkan minyak 3.056 MMSCFD. Dari produksi itu, Pertamina mengolahnya untuk dijadikan bahan bakar yang bisa dikonsumsi masyarakat.

Kebut dan Meremajakan Kilang

Setelah diproduksi, proses mengolah minyak mentah menjadi BBM siap konsumsi tidak lah mudah. Kapasitas kilang terpasang saat ini masih lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan nasional. Alhasil, Nicke pun mengaku Pertamina masih mengimpor BBM hingga kini.

“Hari ini kapasitas kita install capacity 1,1 juta barel per hari. Namun in take kita sekitar 900-an. jadi walaupun crude kita bertambah, kalau kilang tidak ditambah tetap saja produknya harus kita impor,” ujar Nicke.

Untuk menurunkan impor, lanjut Nicke, Pertamina akan mengebut empat proyek pengembangan kilang (Refinary Development Master Plan/RDMP) dan dua New Grass Roots Refinery (NGRR).

“Kita ada rencana membangun kilang menjadi double capacity menjadi dua juta barel per hari untuk memenuhi demand itu,” ujar Nicke.

Empat kilang yang berlokasi di Dumai, Balikpapan, Cilacap, dan Balongan akan dilakukan pembenahan (revamping) sehingga menghasilkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan standar Euro 4.

“Kita me-revamping existing refinary. Karena existing refinary itu kan menghasilkannya Euro 2. Padahal tuntutan lingkungan itu harus minimum Euro 4 atau Euro 5,” imbuh Nicke.

Pemerataan ke Seluruh Indonesia

Ketika semua berjalan, maka Indonesia akan mandiri energi dan dapat menekan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) yang selama ini sering dikeluhkan banyak pihak.

“Kita harapkan tidak ada lagi impor produk terkait untuk memenuhi dalam negeri,” ucap Nicke.

Pemerataan energi ke seluruh pelosok Indonesia pun akan mudah terealisasi karena pasokan memadai. Pertamina diberi mandat pemerintah untuk menjalankan program BBM satu harga. Pada 2017 Pertamina berhasil membangun 54 penyalur dan hingga Oktober 2018 Pertamina sudah membangun 58 penyalur dari target 67 penyalur. Tahun depan Pertamina akan mengadakan 28 penyalur.

(AHL)